Zazhufriend's Blog

Just another WordPress.com site

Cerbung icIL July 31, 2010

Persahabatan dan kematian (cerbung)

PERSAHABATAN DAN KEMATIAN -pemain-

Rio : cowok kelas XI di SMA Harapan. Rio tidak pernah menyangka akan melihat keluarga, sahabat dan pacarnya sendiri meninggal di depan matanya. bersama dengan orang-orang yang mempunyai tragedi sama dengan dirinya, mereka berusaha memecahkan misteri kematian orang-orang disekitar mereka.

Alvin : cowok yang mempunyai pengalaman serupa dengan Rio. ia melihat orang yang palin ia sayangi meninggal dengan tragis persis di depan matanya.

Shilla : cewek yang mempunyai indra keenam. karena kelebihannya itu, ia dianggap gila oleh keluarganya dan dimasukkan ke rumah sakit jiwa. sampai pada suatu hari, semua penghuni rumah sakit jiwa itu tewas menggenaskan akibat kebakaran. hanya Shilla yang yang selamat. Rio dan Alvin megajak Shilla untk bergabung dengan mereka.

Ray : Drummer sebuah band ternama. pada saat mereka sedang mengadakan sebuah tur, teman-teman satu band Ray mengalami kecelakaan tragis yang membuat Ray mencoba bunuh diri. tetapi gagal karena Alvin menggagalkannya dan mengajak Ray bergabng dengan mereka.

Cakka : Seorang anak pengusaha ternama. dari kecil, ia hidup bersama dengan pelayan pribadinya. ia memutuskan bergabung dengan Rio cs, setelah mendapati mayat pelayan pribadi yang ia sayangi di gudang rumahnya.

Ify : adik Alvin yang bisa melihat hal-hal magis. ia membantu Rio cs menguak misteri kematian orang-orang disekitar mereka

—————————————————————————————–

PERSAHABATAN DAN KEMATIAN -part 1-

Rio berjalan menuju kelasnya. Sudah cukup ramai disana. Ia duduk di tempat duduknya dan mulai membuka-buka buku pelajaran.

“Rajin amat lo, yo” komentar seseorang.

“Eh, lo Dev” kata Rio.

“Yo, besok lo ikut, kan?” tanya Deva.

“Kemana?” tanya Rio.

“Ya elah, baru juga kemaren pengumumannya, udah lupa lo. Lo ikut kegiatan pecinta alam besok, kan?” tanya Deva.

“Oh, itu. Ya iyalah, secara Keke juga ikut gitu loh” jawab Rio.

“Yah..Rio. Pacaran melulu kerjaan lo” kata Deva.

“Hehehe..” Rio nyengir.

“Ya udah, gue ke kelas dulu ya” kata Deva. Lalu, Deva kembali ke kelasnya. Sekitar 3 menit kemudian, bel masuk pun berbunyi. Maka dimulailah pelajaran pada hari itu.

Pulang sekolah di parkiran…
“Deva, lo baek kan? Hari ini gue nebeng, dong” kata Rio.

“Lha? Motty mana?” tanya Deva.

“Motty lagi istirahat di bengkel. Ntar sore gue jemput” jawab Rio. Motty adalah nama yang diberikan Deva untuk sepeda motor Rio.

“Okelah kalau begitu. Let’s cabut” kata Deva. Deva mengantar Rio pulang.

“Thanks, bro” kata Rio.

“Sama-sama. Gue pulang dulu, ya” kata Deva. Rio masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju kamar. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dan menghela napas panjang. Tidak lama kemudian ia pun tertidur. Dalam tidurnya, Rio bermimpi aneh. Banyak bercak darah, orang-orang mengerumuni dirinya, teriakan, tangisan dan penyesalan.

“Nggak!” teriak Rio. Lalu, ia terbangun.

“Ya Tuhan, mimpi apa aku barusan?” ujar Rio. Ia baru sadar kalau ia masih memakai seragam sekolahnya. Ia bergegas mandi dan ganti baju.

“Ma, besok Rio ada kegiatan pecinta alam” kata Rio pada mamanya saat makan malam.

“Oh ya?” tanya mama Rio.

“Iya, ma. Lusa baru pulang” jawab Rio.

“Ya udah, habis makan kamu istirahat, ya? Biar besok tenaga kamu full” kata mama Rio.

“Oke, ma” jawab Rio. Rio segera menghabiskan makanannya. Setelah itu, ia tidur. Dan mimpi aneh itu terulang kembali. Rio terbangun. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.

“Apa maksud mimpi tadi?” ujar Rio. Malam itu, ia tidak bisa tidur.

Besoknya…
“Hati-hati ya, Rio” pesan mamanya.

“Iya, ma” jawab Rio. Bus yang membawa 20 orang penumpang itu meninggalkan SMA Harapan. Rio memilih duduk bersama Keke. Di dalam perjalanan, Rio melihat ada bercak darah di baju Keke.

“Ke, lo luka ya?” tanya Rio.

“Nggak, kok. Emangnya kenapa, yang?” tanya Keke.

“Di baju lo ada bercak darahnya, Ke” jawab Rio. Keke mengecek bajunya. Tidak ada noda sedikit pun.

“Nggak ada apa-apa, kok Yo” kata Keke.

“Beneran, ada bercak darah di baju lo” kata Rio. Keke bingung.

“Deva, kata Rio ada bercak darah di baju gue. Emang ada, ya?” tanya Keke pada Deva yang duduk di belakang mereka.

“Nggak ada tuh” jawab Deva.

“Tuh, kan. Nggak ada, Yo” kata Keke pada Rio.
Rio bingung. Matanya melihat ke baju Keke. Masih ada bercak darah disana. Tiba-tiba, Rio merasa ada seseorang yang memperhatikannya.

to be continued….
hmmm.. apakah yg terjadi selanjutnya ??
baca part 2 ya :)

-makasih udah baca-

-PART 2-

“Deg!” jantung Rio berdegup kencang. Ia melihat ke seluruh sisi bus. Sekilas ia melihat sesosok bayangan di bagian belakang bus.

“Apa itu?” pikir Rio.

“Yo, lo kenapa sih? Dari tadi aneh banget” tanya Keke.

“Nggak, kok. Gue nggak apa-apa” jawab Rio.

“Beneran?” tanya Keke meyakinkan. Rio tidak ingin pacarnya itu khawatir.

“Iya, ke” jawab Rio sambil menggenggam erat tangan keke. Beberapa jam kemudian, akhirnya bus yang ditumpangi Rio sampai di tempat tujuan. Tempat itu berupa sebuah bukit yang dikelilingi dengan kebun teh. Mereka semua menginap di sebuah penginapan yang telah mereka sewa.

“Yo, ke kamar yuk!” ajak Deva. Rio yang sedang berbicara dengan Keke mengangguk.

“Ke, gue ke kamar dulu, yah” kata Rio.

“Iya. Gue juga mau ke kamar. Capek nih” jawab Keke. lalu rio pergi menuju kamar penginapan bersama Deva.

Di kamar..

“Dev, baju lo kok ada bercak darah kayak Keke tadi?” tanya Rio. Deva melihat bajunya.

“Ah, nggak ada kok” jawab Deva. Rio jadi semakin bingung.

“Kok cuma gue sih, yang ngeliat darah itu?” pikirnya.

“Yo, lo kenapa sih? Dari tadi pagi gue liat lo tu aneh” tanya Deva.

“Nggak, kok. Gue nggak apa-apa” jawab Rio.

“Ya udah, deh. Ke bawah, yuk. Bentar lagi makan siang” ajak Deva.

“Oke” jawab Rio. Mereka berdua berjalan menuju ruang makan penginapan itu. Disana, sudah ada Keke dan beberapa murid lainnya. Keke sudah ganti baju. Namun, Rio masih melihat bercak darah di baju Keke.

“Gue nggak boleh mikirin itu lagi” batin Rio. Ia berjalan menuju tempat Keke.

“Hai, keke” sapa Rio.

“Hai, Rio. Lama amat. Makan, yuk” ajak Keke

“Iya” jawab Rio. Lalu, mereka semua mulai makan siang.

“Oke, semuanya. Kegiatan akan kita mulai sore ini. Kakak sudah membagi kalian berkelompok. Satu kelompok terdiri dari 3 orang. Silahkan lihat di pintu kamar kalian masing-masing. Terima kasih” kata kak Winda. Semua peserta kegiatan itu kembali ke kamar masing-masing.

“Yo, kita sekelompok” kata Deva.

“Yes! Tapi satu lagi siapa?” tanya Rio.

“Keke” jawab Deva.

“Yippie!” seru Rio saking girangnya. 2 jam lagi semua kelompok yang telah dibagi berkumpul di tempat yang sudah tertera di kertas pengumuman. Rio, Deva dan Keke menghabiskan waktu yang 2 jam itu dengan mendengarkan lagu dari ipod masing-masing. Tanpa sadar, Rio pun tertidur dan mimpi aneh yang sama terulang kembali.

“Nggak, jangan!!” teriak Rio.

“Yo, Rio. Bangun, Yo” Deva membangunkan Rio.

“Ha?” Rio terbangun dan menyadari bahwa yang tadi itu mimpi.

“Lo ngigau, Yo” kata Keke.

“Gila lo, ya! Siang-siang gini ngigau” tambah Deva.

“Gue keluar dulu. Mau cari udara segar” kata Rio. Ia berjalan keluar sambil memikirkan hal-hal aneh yang terjadi padanya.

“Apa sebenarnya maksud semua ini?” Rio bertanya-tanya dalam hatinya. Tiba-tiba, ia melihat sekelebat bayangan hitam lewat di depannya. Sekilas, ia melihat mata yang berwarna merah pada bayangan itu. Seketika itu juga, Rio jatuh terduduk. Sudah dua kali Rio melihat bayangan itu. Tiba-tiba, ia merasakan bahunya dipegang.

hhmm,,,penasaran kan sapa yg megang bahunya Rio ??

tunggu part 3 nya,,,

-PART 3-

Rio yang merasa bahunya dipegang oleh seseorang pun terkejut.

“Kok lo duduk disini, Yo?” tanya Deva. Ternyata Deva yang memegang bahunya.

“Eh, lo Dev. Gue kira siapa” jawab Rio.

“Kita semua nyariin lo tau” kata Deva. Rio segera berdiri.

“Kan udah ketemu. Balik, yuk” kata Rio. Deva dan Rio kembali ke penginapan. Ternyata kelompok pecinta alam sudah bersiap-siap untuk berangkat.

“Rio!! Lo kemana aja? Gue khawatir tau” kata Keke.

“Cuma nyari udara seger, kok. Eh, udah mau berangkat, ya?” tanya Rio.

“Iya” jawab Keke.

“Bentar dulu, gue mau ngambil tas” kata Rio. Ia masuk ke penginapan dan tak lama kemudian kembali dengan membawa tasnya. Setelah itu, rombongan pecinta alam SMA Harapan meninggalkan penginapan dan berjalan bersama menuju sebuah hutan di dekat bukit. Mereka akan mengadakan survey dari sore hingga besok pagi.

“Oke, silahkan dirikan tenda untuk istirahat. Malam ini, kita menginap disini. Dirikan saja 4 tenda. 2 untuk laki-laki dan 2 untuk perempuan” jelas kak Winda. Semua murid mendirikan tenda. Setelah itu, dimulailah acara survey para pecinta alam.

“Silahkan melihat-lihat isi hutan ini. Ambil fotonya dan kembali kesini. Batas waktu hingga jam 7 malam” kata kak Winda. semua kelompok segera berjalan menuju hutan.

“Yo, ni pohon gede amat ya?” komentar Deva.

“Iya. Foto yuk” jawab Rio.

“Siapa? Gue?” tanya Deva.

“Kagak. GR amat sih, lo. Yang mau gue foto pohon itu” jawab Rio. Lalu, Rio mengambil kamera dan memotret pohon yang sangat besar itu. Rio mengamati pohon itu. Muncul sedikit kengerian pada diri Rio.

“Udah, Yo? Cari objek lain, yuk” ajak Keke. Rio mengangguk. Mereka bertiga berjalan mencari objek lain. Setelah beberapa jam mencari objek untuk survey, Rio cs kembali ke perkemahan.

“Hah! Capek gue” ujar Deva.

“Gue juga” tambah Keke.

“Oh ya, gue kesana dulu, ya?” Rio menunjuk ke tempat pohon besar yang pertama dilewatinya tadi.

“Ngapain? Gue ikut, ya Yo” kata Keke.

“Nggak usah. Lo kan capek. Gue cuma sebentar, kok” kata Rio. Ia pergi menuju pohon besar itu. Diperhatikannya pohon itu.

“Ni pohon pasti udah tua banget, ya” pikir Rio. Tiba-tiba Rio dikejutkan dengan bayangan hitam yang lewat di belakang pohon besar itu.

“Ya Tuhan. Sudah tiga kali aku melihat bayangan itu. Pertanda apa ini?” batin Rio. Tanpa ba-bi-bu, Rio segera berlari meninggalkan pohon besar itu. Sesampainya di perkemahan, Deva dan Keke bingung melihat Rio kembali dengan napas yang ngos-ngosan.

“Habis jogging lo, Yo?” tanya Deva.

“Kagak. Ah, gue capek. Pengin tidur” jawab Rio sambil masuk ke dalam tendanya. 5 menit kemudian, Rio sudah tertidur. Mimpi aneh itu kembali mendatangi Rio. Tapi, di dalam mimpi itu, ia melihat seorang cewek yang berada di rumah sakit jiwa. Rio terbangun.

“Ada apa ini? Lama-lama gue bisa gila dengan mimpi dan bayangan itu. Siapa cewek penghuni rumah sakit jiwa itu?” Rio bertanya-tanya dalam hati.

Akhirnya malam pun tiba. Malam ini, kegiatan mereka adalah berkumpul di dekat api unggun. Rio keluar dari tendanya. Ia bermaksud untuk mencari Keke. Tapi, ia tidak menemukannya.

“Dev, Keke mana?” tanya Rio.

“Belum balik” jawab Deva.

“Emang dia kemana?” tanya Rio lagi.

“Nggak tau” jawab Deva. Rio bertanya pada teman satu tenda Keke.

“Liv, Keke kemana?” tanya Rio pada Olivia.

” Tadi pas lo tidur, Keke pergi ke hutan. Katanya mau motret apa gitu” jawab Olivia.

“Sampai malam gini masih belum balik?” Rio mulai khawatir.

“Iya. Tapi ada yang aneh dari Keke tadi. Ia seperti orang bingung. Dan matanya…” kata Olivia.

“Matanya?” tanya Rio.

“Matanya merah. Gue ampe ngeri liat dia” jawab Olivia. Kali ini Rio benar-benar cemas. Ia segera berlari ke dalam hutan yang gelap untuk mencari Keke.

“Untung gue bawa senter” batin Rio. Ia segera mencari Keke. Entah mengapa firasatnya mengatakan kalau Keke pergi ke pohon besar itu. Ternyata firasatnya benar. Ia melihat Keke sedang duduk di bawah pohon itu. Ketika Rio akan memanggil Keke, betapa terkejutnya Rio. Gadis yang dicintainya itu sudah tak bernyawa lagi. Keke sudah bersimbah darah di bawah pohon itu. Sebuah tali terikat erat dileher Keke. Rio merasa tak berdaya lagi. Ia jatuh terduduk melihat mayat Keke.

“Keke!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Rio.

-part 4-

Rio tak kuasa melihat Keke. Seketika itu juga teman-teman Rio mengerumuninya. Mereka semua terkejut. Beberapa di antara mereka ada yang berteriak histeris. Kak Winda segera menghubungi ambulans dan memutuskan untuk pulang malam itu juga. Akhirnya, kegiatan itu berakhir dengan tragis. Malam itu, jenazah Keke segera di urus

Hari pemakaman Keke…

“Rio, hari ini Keke dimakamkan. Kamu nggak mau ngantar dia ke tempat terakhirnya?” tanya mama Rio.

“Nggak, ma. Rio nggak kuat” jawab Rio.

“Rio, mama tau gimana perasaan kamu sekarang. Tapi, antarlah Keke untuk terakhir kalinya” ujar mama Rio. Dengan berat hati, Rio mengangguk. Ia ganti baju dan pergi ke pemakaman Keke bersama mamanya.

Di pemakaman…

“Ke, maafin gue karena gue nggak bisa jadi pacar yang baik buat lo. Gue bersumpah akan mencari tau siapa yang tega bikin lo kayak gini” kata Rio di samping nisan Keke.

“Rio, ayo pulang” ajak mamanya.

“Mama duluan aja. Nanti Rio nyusul” jawab Rio. Mama Rio pergi meninggalkan Rio di makam Keke.

“Ke, mungkin gue nggak bisa lagi ke rumah lo. Mungkin gue nggak bisa lagi ketawa-ketiwi bareng lo kayak dulu lagi. Tapi gue janji hati gue akan selalu jadi milik lo” kata Rio. Airmata Rio menetes membasahi makam Keke. Setelah itu, Rio pulang.

Keesokan harinya…

“Rio, kamu nggak ke sekolah?” tanya mama Rio.

“Males, ma” jawab Rio.

“Rio, kamu harus pergi ke sekolah” kata seorang lelaki yang berdiri di samping mama Rio. Yang tidak lain adalah papa Rio.

“Pa?” kata Rio.

“Bagaimanapun juga kamu harus pergi sekolah, Rio. Kamu nggak bisa kayak gini terus” jawab papa Rio.

“Rio nggak mau pergi hari ini, pa, ma. Please ngertiin Rio” kata Rio. Mama dan papa Rio tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Terpaksa mereka berdua meninggalkan Rio sendiri di kamarnya.

Hari itu dihabiskan Rio dengan merenung dan mengenang semua hal-hal yang telah ia lewati bersama Keke. Tanpa sadar airmata Rio menetes lagi.

Ia segera sadar dari lamunannya dan mengambil jaket plus kunci motor. Tanpa pamit, ia pergi meninggalkan rumah.

Rio memacu motor sekencang-kencangnya. Tak peduli apa yang akan terjadi padanya. Beberapa menit kemudian, ia menghentikan motornya di sebuah taman yang ditengahnya terdapat danau yang indah. Disinilah, ia dan Keke bersama merayakan ulang tahun terakhir Keke.

“Keke!!! gue kangen sama lo!!” teriak Rio. Ia berlutut di taman itu dan melampiaskan seluruh emosinya. Ia menangis sejadi-jadinya disana. Saat ia merasa sudah agak puas, ia bermaksud pergi dari sana. Tiba-tiba, ia melihat seorang cowok berjalan di pinggir danau. Lalu, cowok itu pingsan. Rio yang melihat itu, segera berlari meuju tempat cowok itu.

“Hei, hei!! Bangun!! Hei!!” Rio menggoncan-goncagkan tubuh cowok itu. Tak lama kemudian, cowok itu bangun.

“Ng? Gue dimana?” tanya cowok itu.

“Di pinggir danau. Lo pingsan barusan” jawab Rio. Cowok itu segera duduk.

“Thanks udah nolongin gue. Gue Alvin” kata cowok itu yang ternyata bernama Alvin

“Sama-sama. Gue Rio. Oh ya, kok lo ada disini?” tanya Rio.

“Gue pergi dari upacara pemakaman kakak gue” jawab cowok itu.

“Pergi?” tanya Rio.

“Iya. Gue dituduh udah ngebunuh kakak gue sendiri karena kakak gue meninggal di depan mata gue sendiri” jawab Alvin.

“Ha?” Rio tidak percaya.

“Gue nggak bakal ngerelain kepergian kakak gue. Bayangan hitam sialan itu yang udah bikin kakak gue meninggal” kata Alvin sambil menatap ke arah danau. Tatapannya sangat menyakitkan. Penuh Emosi.

“Bayangan hitam?” tanya Rio.

“Bayangan yang selalu menghantui gue. Sebelum kakak gue meninggal, gue ngeliat banyak bercak darah di baju kakak gue” jawab Alvin. Rio tidak menyangka pengalaman Alvin sama dengannya.

“Gue juga ngalamin hal yang sama dengan lo” kata Rio.

“Maksud lo?” tanya Alvin

“Cewek gue meninggal 2 hari yang lalu. Akhir-akhir ini gue sering ngeliat bayangan hitam bermata merah lewat di hadapan gue. Sebelum cewek gue meninggal, gue juga ngeliat bercak darah di bajunya” kata Rio dengan mata sendu. Alvin menepuk bahu Rio.

“Gue turut berduka, Yo. Gue udah bersumpah demi kakak gue, gue akan balas kematian kakak gue. Gue nggak bisa tinggal diam. Bayangan hitam itu udah bikin hidup gue menderita” kata Alvin.

“Gue juga, Vin” jawab Rio.

“Tapi sampai detik ini gue nggak tau apa maksud bercak darah itu” kata Alvin. Rio terdiam.

“Gue juga nggak tau, Vin. Selain di cewek gue, gue juga ngeliat bercak itu di baju sobat gue, Deva” kata Rio.

“Apa maksud semua ini?” tanya Alvin.

“Entahlah. Beberapa hari terakhir ini, gue terus mimpi aneh. Banyak bercak darah dalam mimpi gue. Terakhir kalinya, gue ngeliat seorang cewek pasien rumah sakit jiwa di mimpi
gue” jawab Rio.

“Gue juga mimpi kayak gitu. Kemarin sebelum kakak gue meninggal, gue mimpi ada seorang cowok berdiri di bawah pohon besar di tengah hutan. Dan orang itu mirip banget sama lo” kata Alvin. Rio
tampak berpikir.

“Mungkin itu emang gue. Vin, lo ikut gue sekarang” kata Rio mengajak Alvin. Mereka berdua pergi ke hutan tempat kegiatan Rio
kemarin. Memang perjalanan yang cukup lama.

“Kita kemana, Yo?” tanya Alvin.

“Ke tempat yang lo liat di mimpi lo” jawab Rio. Mereka berdua pun sampai di sebuah hutan. Rio mengajak Alvin ke lokasi pohon besar tempat mayat Keke ditemukan.

“Ini pohon yang lo liat, Vin?” tanya Rio.

“Iya, Yo. Persis banget sama yang ada dalam mimpi gue, dan lo yang ada dalam mimpi gue” jawab Alvin.

“Lo udah nemuin gue. Dan artinya, gue harus nemuin cewek yang ada dalam mimpi gue” kata Rio.

to be continued..
hmmm.. apa kah mungkin alvin dan rio bisa nemuin cewe yg di dalam mimpi rio ??
dan, siapa cewe yg ada di mimpi rio ??
apakah ada orang lain selain mereka berdua yg mengalami misteri yg aneh ini ??
-part 5-

Rio dan Alvin bingung gmna caranya nemuin cewek yg di dalam mimpi rio..
“kita harus ke rumah sakit jiwa yang di huni sama cewe yg dalem mimpi gue..”

“Tapi, dia ada di rumah sakit jiwa mana? Kita kan nggak tau” tanya Alvin.

“Lo bener, Vin. Gue harus mikirin gimana cara supaya gue bisa ketemu sama tu cewek” jawab Alvin.

“Kita pulang sekarang?” tanya Rio. Alvin mengangguk.

“Rumah lo dimana, Vin?” tanya Rio.

“Gue nggak akan balik ke rumah, Yo” jawab Alvin. Rio tampak berpikir.

“Lo tinggal di rumah gue aja, Vin” ajak Rio. Alvin menggeleng.

“Nggak usah, Yo. Makasih. Lo anterin gue ke makam kakak gue aja” jawab Alvin. Rio terpaksa menuruti permintaan Alvin. Ia mengantarkan Alvin ke makam kakak Alvin.

“Makasih, Yo. Lo pulang aja, gue nggak apa-apa kok” kata Alvin.

“Kalo gue pengin ketemu lo lagi, gue harus nyari lo kemana, Vin?” tanya Rio.

“Lo bisa nyari gue di taman” jawab Alvin. Lalu, Rio meninggalkan Alvin
di makam kakaknya.

Di depan rumah Rio sore itu…

“Rio!!!” panggil seseorang yang ternyata adalah Deva. Deva tampak aneh.

“Deva!” jawab Rio. Begitu Rio melihat Deva, Ia terkejut karena ia melihat bercak darah di baju Deva.

“Gue kangen banget sama lo, sob” ujar Deva.

“Ngapain lo kesini, Dev?” tanya Rio menyembunyikan keterkejutannya.

“Mau ngeliat keadaan lo” jawab Deva.

“Gue baik-baik aja kok, Dev” kata Rio.

“Beneran?” tanya Deva.

“Iya. Eh, lo nggak masuk dulu?” tanya Rio. Deva menggeleng.

“Nggak usah, Yo. Gue langsung pulang aja, ya. Gue kesini Cuma mau liat keadaan lo” jawab Deva.

“Oke. Hati-hati” kata Rio.

“Sip. Besok lo harus masuk ya, Yo” kata Deva.

“Oke” jawab Rio. Deva meninggalkan rumah Rio. Setelah Deva pulang, Rio masuk ke dalam rumahnya.

“Rio, darimana kamu?” tanya papa Rio.

“Nenangin diri, pa” jawab Rio.

“Papa harap besok kamu mau masuk sekolah” kata papa Rio.

“Iya, pa. Besok Rio bakalan masuk” jawab Rio. Rio berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Rio membaringkan badannya di tempat tidur.

“Hah…terlau banyak beban hari ini. Gue harus istirahat. Ke, gue tidur dulu” kata Rio sambil mencium foto Keke. Tak lama kemudian, Rio tertidur. Kali ini, mimpi itu tidak menghantuinya lagi. Sekitar jam 9 malam Rio terbangun.

“Gue nggak mimpiin itu lagi” batin Rio senang. Tiba-tiba, handphone Rio berbunyi. Ada telepon dari ibunya Deva.

“Halo, tante?” kata Rio.

“Rio, Deva ada di rumah kamu?” tanya ibu Deva.

“Tadi sore, Deva emang ke rumah Rio, tante. Tapi, sekitar jam 6, dia udah pulang” jawab Rio.

“Aduh, keluyuran kemana lagi itu anak. Ya udah, makasih Rio” kata ibu Deva.

“Tante, tunggu. Emangnya ada apa, tante?” tanya Rio.

“Deva belum pulang, Rio. Udah tante telfon-telfon tapi nggak diangkat. Tante sama om sangat khawatir. Kamu bisa bantuin tante nyari dia?” jawab ibu Deva.

“Pasti, tante. Rio pasti bantuin tante” kata Rio. Lalu, Rio mengambil kunci motor dan pamit pada orangtuanya. Setelah itu, Rio pergi mencari Deva.

“Deva, lo kemana sih?” batin Rio. Baru saja ia sampai di perempatan jalan kompleksnya, ia melihat Deva.

“Deva!” panggil Rio. Deva tidak menoleh sedikit pun. Rio turun dari motornya dan menghampiri Deva.

“Deva!” Rio menarik tangan Deva. Ia melihat mata Deva yang berwarna merah. Ia seperti orang bingung. Deva memukul wajah Rio dan mendorongnya hingga Rio terjatuh. (BUUKKK) Rio sangat terkejut dengan sikap sahabatnya yang satu ini. Setelah memukul dan mendorong Rio,
Deva terus berjalan seperti orang bingung. Rio berdiri dan memanggil Deva.

“Deva, berhenti!!!” seru Rio. Deva menghentikan langkahnya.

“Deva, lo kenapa? Ini bukan lo, Dev. Apa yang ter..” belum selesai Rio berbicara ia melihat sesosok bayangan hitam lewat di depan Deva. Seiring
menghilangnya bayangan itu, Deva terjatuh. Rio segera menghampiri Deva. Betapa kagetnya Rio
ketika melihat Deva seperti habis diterkam binatang buas. Banyak cakaran di tubuhnya. Deva sudah tidak bernyawa lagi. Ia meninggal.

“Tolong!!!!!!!!!!!!!!!” teriak Rio. Beberapa orang keluar dari rumah mereka dan segera menolong Rio membawa Deva ke rumah sakit. Rio segera menelepon orang tua
Deva. Ibu Deva datang ke rumah sakit langsung menangis histeris. Ayah Deva
menenangkan ibu Deva walaupun ia sendiri tak kuasa menahan airmata. Tak lama
kemudian, papa dan mama Rio datang. Mereka mencoba menenangkan orangtua Deva. Malam itu, suasana duka menyelimuti orangtua Deva. Duka yang amat dalam juga dirasakan oleh Rio.
Setelah ia kehilangan Keke, kini ia harus menghadapi kenyataan kalau Deva,
sahabatnya juga meninggal dalam keadaan tragis di depan matanya sendiri.

“Rio, ayo pulang” ajak papanya.

“Nanti aja, pa. Rio mau nemenin Deva” kata Rio.

“Rio, sayang. Kamu turutin kata papa kamu. Kamu butuh istirahat. Besok kita hadiri pemakaman Deva sama-sama, ya” kata mama Rio.
Kali ini, Rio harus menurut. Ia meninggalkan
rumah sakit dalam keadaan batin yang teriris-iris. Sesampainya di rumah, tiba-tiba Rio jatuh pingsan..

to be continued..
wahwahwah.. Rio kenapa pingsan yah ??
semoga ga kerasukan (?) hahah..
Bagaimana kelajutannya?

-PART 6-

 

 

Mama dan papa Rio segera membawa Rio ke kamarnya. Rio masih tak sadarkan diri. Tiba-tiba, Rio mengigau.

“Keke!! Deva!! Jangan tinggalin gue” Rio mengingau.

“Rio, bangun nak” kata papa Rio. Mama Rio mulai cemas. Tak lama kemudian, Rio membuka matanya. Mama dan papa Rio terlihat lega.

“Ma? Pa? Rio kenapa?” tanya Rio.

“Tadi kamu pingsan, Rio. Mama dan papa sangat cemas” jawab papa Rio. Rio termenung sesaat. Ia ingat semua yang terjadi pada dirinya.

“Deva!! Rio mau balik ke rumah sakit” Rio berdiri. Ia merasakan kepalanya masih sakit. Tiba-tiba, Rio terjatuh.

“Aduh!!” kata Rio sambil memegang kepalanya.

“Rio! Kamu harus istirahat dulu. Kamu baru sadar dari pingsan” kata mama. Rio terpaksa menuruti perkataan mamanya. Ia berbaring di tempat tidurnya.

Hari pemakaman Deva…

Suasana duka mengiringi jenazah Deva ke tempat peristirahatan terakhirnya. Ibu Deva sempat tidak sadarkan diri saat prosesi pemakaman. Ayah Deva tak kuasa menahan airmata saat melihat putra kesayangannya dimakamkan. Teman-teman Deva juga meneteskan airmata atas kepergian seorang cowok yang heboh dan ramah. Lain dengan Rio, ia tidak meneteskan airmata sedikit pun ketika Deva dimakamkan. Ia hanya termenung melihat Deva dimakamkan.

Setelah prosesi pemakaman selesai…

“Dev, lo tau nggak kenapa gue nggak netesin airmata sedikit pun saat lo dimakamin?” tanya Rio di samping makam Deva. Lalu, ia melanjutkan.

“Airmata gue nggak bisa keluar lagi saking sedihnya gue kehilangan lo. Tapi, gue bersumpah demi Keke dan lo, Dev. Gue nggak akan nyerah sampai gue nemuin siapa yang udah bikin lo berdua kayak gini” kata Rio. Tiba-tiba, Alvin datang menghampiri Rio.

“Vin?” kata Rio.

“Ngapain lo disini, Yo?” tanya Alvin.

“Deva meninggal, Vin” jawab Rio. Alvin sangat terkejut. Ia menepuk bahu Rio untuk menenangkan Rio.

“Gue turut berduka, Yo” kata Alvin.

“Thanks, Vin. Lo ngapain disini?” tanya Rio.

“Ke makam kakak gue” jawab Alvin.

“Gue mau cerita sama lo. Kita ke taman sekarang?” tanya Rio. Alvin mengangguk. Mereka berdua pergi menuju taman dengan motor Rio.

“Yo, Deva itu sahabat lo yang kemarin lo certain ke gue, kan?” tanya Alvin.

“Iya, Vin. Dan dia dibunuh sama bayangan hitam sialan itu” jawab Rio.

“Kita harus secepatnya nemuin cewek pasien rumah sakit jiwa itu, Yo” kata Alvin. Lalu melanjutkan.

“Lo inget kan, kalo lo ada di mimpi gue? Nah, cewek itu ada di mimpi lo, kan? Ini seperti sebuah sinyal untuk mencari orang yang ada dalam mimpi kita. Bisa jadi, orang itu ada hubungannya dengan peristiwa ini” kata Alvin

“Lo bener, Vin. Gue nggak bisa terima kematian Keke dan Deva” kata Rio.

“Mungkin Ify bisa bantuin kita, Yo” kata Alvin.

“Ify? Siapa itu?” tanya Rio.

“Adek gue. Lo bisa nemuin dia disini” kata Alvin sambil menyerahkan sebuah kertas berisi alamat.

“Ini rumah lo, Vin?” tanya Rio.

“Iya” jawab Alvin.

“Sekarang lo tinggal dimana?” tanya Rio.

“Di kost-kostan sepupu gue. Beruntung pemilik kostan itu mau nerima gue” jawab Alvin.

“Syukurlah” kata Rio. Lalu melanjutkan.

“Vin, lo tunggu disini sebentar. Gue bawa adek lo kesini” kata Rio. Alvin mengangguk. Rio segera memacu motornya menuju alamt yang diberikan Alvin. Sampailah ia di sebuah rumah bergaya minimalis berwarna abu-abu. Rio mengetuk pintu rumah itu.

“Ya…sebentar” sahut seseorang dari dalam rumah. Pintu rumah itu dibuka oleh seorang gadis.

“Cari siapa?” tanya gadis itu.

“Ify nya ada?” tanya Rio.

“Ya, saya sendiri” jawab cewek itu yang ternyata adalah Ify.

“Lo bisa ikut gue sebentar?” tanya Rio.

“Kemana?” tanya Ify.

“Pokoknya ikut aja” jawab Rio. Ify berfikir sebentar dan ia mengangguk. Ia pamit kepada orangtuanya dan segera naik ke motor Rio. Sampailah mereka berdua di taman tempat Alvin menunggu Rio. Mereka berdua turun dari motor dan berjalan menuju kursi taman. Disana, Alvin sedang duduk menunggu mereka. Ify yang melihat Alvin langsung berlari menghampirinya.

“Kak!” panggil Ify. Alvin menoleh. Ia berdiri dan langsung memeluk Ify.

“Aku kangen sama kakak” kata Ify.

“Iya, Fy. Kakak juga kangen sama kamu” kata Alvin.

“Kakak tinggal dimana sekarang?” tanya Ify.

“Di kostan kak Iyel, Fy” jawab Alvin.

“Ify ikut, ya?” tanya Ify.

“Jangan, Fy. Nanti papa khawatir” jawab Alvin.

“Oh ya, kakak itu siapa?” tanya Ify menunjuk Rio.

“Gue Rio. Teman Alvin” kata Rio memperkenalkan diri.

“Lo udah tau nama gue, kan?” tanya Ify. Rio mengangguk.

“Oh ya, kok kakak manggil Ify kesini? Ada apa kak?” tanya Ify.

“Kakak sama Rio butuh bantuan kamu, Fy” jawab Alvin.

“Bantuan apa, kak?” tanya Ify.

“Rio juga dihantui bayangan hitam yang udah ngebunuh kakak kita, Fy” jelas Alvin.

“Ha?” Ify terkejut.

“Iya. Pacar dan sahabat Rio udah meninggal dengan tragis” jawab Alvin.

“Gue turut berduka ya, kak Rio” kata Ify.

“Thanks, Fy. Oh iya, kok Ify bisa bantuin kita, Vin?” tanya Rio.

“Adek gue ini ajaib, Yo. Dia bisa ngeliat hal-hal yang nggak bisa kita liat” jawab Alvin.

“Lha? Gue kan bisa ngeliat tu bayangan. Berarti gue juga ajaib, dong” protes Rio.

“Kita cuma bisa liat bayangannya doang, kan? Ify udah liat wujud aslinya” kata Alvin.

“Ha? Kayak apa, Fy?” tanya Rio.

“Gue juga ngeliat sekilas, kak. Tapi yang jelas, bayangan itu sosok aslinya cewek” jawab Ify.

“Cewek?” tanya Rio.

“Iya” jawab Ify.

“Fy, kita berdua bakalan selalu butuhin bantuan lo. Lo mau kan, bantuin kita?” tanya Rio.

“Pasti. Gue juga mau balas dendam sama bayangan hitam yang udah ngebunuh kakak gue” jawab Ify.

“Itu baru namanya adek Alvin Jonathan Sindunata” kata Alvin mengacak-acak rambut Ify.

“Yo, lo bisa nganterin adek gue ini pulang, kan?” tanya Alvin pada Rio.

“Iya. Tapi lo ntar gimana?” tanya Rio pada Alvin.

“Tenang aja, gue bisa naik angkot. Lagian, kostan Gabriel nggak jauh dari sini, kok” jawab Alvin.

“Oke, deh” kata Rio. Ia segera menyuruh Ify naik ke motornya.

“Fy, kita ke makam Keke sama Deva dulu, ya” kata Rio.

“Ya, kak. Sekalian aja gue ke makam kakak gue” kata Ify. Mereka sampai di pemakaman umum. Rio dan Ify turun dari motor. Rio berjalan menuju makam Keke. Ify mengikuti.

“Ini makam pacar kakak?” tanya Ify. Rio mengangguk.

“Ke, gue bakalan jarang ke sini lagi. Gue harus nyelesain misteri kematian lo sama Deva.
Deva juga meninggal, Ke. Lo jangan marah, ya” kata Rio. Ia berdoa sejenak lalu beranjak dari
makam Keke ke makam Deva dan Ify berjalan menuju makam kakaknya.

“Deva, gue kesini lagi. Gue akan ngungkap misteri kematian lo. Gue bakalan jarang ke sini. Lo doain gue, ya sob. Motty pasti gue rawat” Rio berdoa sejenak di makam Deva. Saat Rio sedang berdoa,
tiba-tiba Ify berteriak. Rio terkejut. Ia segera menghampiri Ify

-PART 7-

 

 

Rio yg terkejut langsung lari ke arah Ify..

“Kenapa, Fy?” tanya Rio cemas.

“Itu kak…” Ify menunjuk ke sebuah sisi pemakaman. Rio melihat ke arah yang ditunjuk Ify. Ia melihat bayangan hitam itu lagi.

“Bayangan itu lagi, Fy?” tanya Rio. Kini, Rio berusaha untuk tidak takut. Ify
mengangguk takut. Rio merangkul Ify. Ia merasakan Ify gemetaran.

“Udah, Fy. Mending kita pergi aja dari sini” kata Rio, lalu membawa Ify kembali ke motor Rio. Ify menurut.

Tapi, pandangan Ify tetap tertuju ke tempat bayangan itu berdiri. Ify terus
memandangi bayangan hitam yang wujud aslinya bisa dilihat Ify.

Perlahan, rasa takut itu menghilang menjadi rasa iba. Ify melihat sosok asli bayangan itu
menangis. Selang beberapa menit kemudian, sosok lain datang menghampiri sosok
yang menangis itu. Sontak Ify terkejut. Bayangan hitam itu tidak hanya ada
satu. Kini rasa itu bercampur aduk, rasa iba dan rasa takut. Seiring dengan
kepergian Ify dan Rio, kedua bayangan itu menghilang.

“Makasih, kak” ucap Ify di depan rumahnya.

“Sama-sama. Oh ya, kalo ada apa-apa lo hubungin gue” kata Rio.

“Gue nggak punya nomer lo, kak” kata Ify. Rio memberikan nomor hpnya pada Ify.

“Inget, kalo ada apa-apa lo hubungin gue” kata Rio.

“Iya, kak. Oh ya, gue mau bilang sesuatu sama kakak, tapi jangan kasih tau kak Alvin
dulu. Gue belum tau pasti soalnya” kata Ify.

“Oke, oke” jawab Rio. Ify membisikkan sesuatu di telinga Rio. Setelah mendengar perkataan Ify, mata Rio terbelalak. Rasa takut itu kembali datang.

“Lo yakin, Fy?” tanya Rio.

“Belum terlalu yakin, kak” jawab Ify.

“Yang penting kita harus hati-hati” kata Rio.

“Iya, kak. Ya udah, gue masuk ya” kata Ify. Rio pun pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia segera masuk ke kamar. Ia melihat bayangan itu lagi. Ia berusaha unutk tidak takut.

“Pergi lo!!” kata Rio. Tak lama kemudian, bayangan itu menghilang. Malam itu, Rio
benar-benar tidak bisa tidur karena memikirkan apa yang dikatakan Ify tadi.

2 minggu kemudian…

Hari-hari dilewati Rio dengan rasa penasaran yang besar. Ia mencemaskan semua orang yang ada
disekitarnya. Kini, Rio sudah kembali ke sekolah. Hampa rasanya hari-hari Rio tanpa kehadiran Keke yang selalu menanyakan apakah Rio ada membuat PR atau tidak. Sepi rasanya hidup Rio tanpa kehadiran Deva yang selalu terlambat masuk kelas hanya gara-gara terlalu lama berkunjung ke kelas Rio.

Sepulang sekolah biasanya Rio pergi ke tempat Ify dan mengunjungi Alvin di taman. Dengan
begitu sedikit bebannya bisa berkurang. Tapi, gadis yang ada dalam mimpi Rio sampai detik ini belum bisa ia temukan.

“Rio” panggil papanya.

“Iya, pa” jawab Rio.

“Papa mau bicara sama kamu” kata papanya.

“Ada apa, pa?” tanya Rio.

“Papa dan mama senang karena akhirnya kamu mau masuk sekolah kembali. Dan kamu sudah mulai tersenyum walaupun sedikit” jawab papa Rio. Rio tersenyum mendengar perkataan papanya.

“Rio, kamu jaga mama, ya. Besok papa harus berangkat ke Malaysia” kata papa Rio.

“Berapa hari, pa?” tanya Rio.

“Belum pasti. Papa harus selesaikan masalah yang ada disana” jawab papa Rio. Rio
menunduk menahan kesedihannya. Papa Rio yang melihat putra semata wayangnya itu
tersenyum dan memeluk Rio.

“Kamu kan bisa menelfon papa, nak” kata papa Rio. Lalu, mama Rio datang menghampiri Rio dan papanya.

“Ayo, makan malam dulu. Pa, barang-barang papa udah mama masukin ke koper” kata mama Rio.

“Makasih, ma. Nah Rio, ayo kita makan malam” ajak papa Rio. Mereka bertiga makan malam dalam suasana yang khidmat dan diselimuti kebahagiaan. Sayangnya, tak ada yang abadi di dunia ini.
Kebahagiaan itu tak akan bertahan lama.

Esoknya…

“Rio, inget apa kata papa semalam” pesan papa Rio. Rio mengacungkan jempolnya.

“Ma, papa pergi dulu ya” kata papa Rio sambil mencium kening mama Rio. Lalu, papa Rio
masuk kedalam taksi. Saat papanya masuk ke dalam taksi, sekilas Rio melihat bercak darah di baju papanya.

“Nggak!!” batin Rio. Setelah itu, taksi yang membawa papa Rio meninggalkan kompleks perumahan Rio. Rio masih sempat melihat taksi itu berbelok di perempatan jalan di depan kompleks perumahan itu.
Saat itu juga, Rio melihat taksi yang ditumpangi papanya ditabrak oleh sebuah truk hingga taksi itu terlempar. Rio dan mamanya yang melihat kejadian itu, segera berlari menuju tempat kejadian. Saat mereka sampai disana, orang-orang sudah mengerubungi taksi naas itu. Rio melihat sesosok bayangan hitam keluar dari truk yang menabrak papa Rio. Ia segera melihat ke dalam truk itu. Kosong. Tidak ada sopir pada truk itu.

“Rio!!” panggil mamanya. Rio melihat mamanya menangis. Dipeluknya mama yang sangat dicintainya itu.

“Papa kamu..” kata mama Rio. Rio segera melepaskan pelukan mamanya dan
berlari menuju taksi yang sudah hancur itu. Ia tak kuasa melihat pemandangan di dalam taksi itu. Seorang papa yang sangat disayanginya kini sudah tiada. Di dalam taksi, hanya ada jenazah
papa Rio. Tidak ada jenazah sopir yang membawa papa Rio. Taksi itu tidak bersopir. Hari itu
juga, jenazah papa Rio dimakamkan. Alvin dan Ify juga menghadiri pemakaman papa Rio. Rio masih belum percaya kemarin malam merupakan malam terakhir ia makan malam bersama dengan
papanya.

“Yo, gue turut berduka” kata Alvin. Rio hanya bisa terdiam. Pandangan matanya kosong.

“Kak Rio, yang tabah ya” kata Ify. Rio masih diam.

2 hari kemudian…

Semenjak kematian papanya, Rio tidak pergi ke sekolah lagi. Ia harus merawat mamanya yang depresi atas kepergian papa Rio. Rio tidak tahan melihat keadaan mamanya. Ia memutuskan untuk membawa mamanya ke psikiater. Walau berat, tapi keadaan yang menyuruh.

Rumah sakit..

“Rio, ibu anda mengalami depresi berat atas kematian ayah anda. Saya sarankan, ibu anda di rawat di
rumah sakit” kata dokter.

“Nggak, dok. Mama saya nggak gila” kata Rio.

“Dirawat di rumah sakit jiwa bukan berarti mama anda gila. Disana, kami akan lebih bisa memperhatikan keadaan ibu anda. Ibu anda harus mendapatkan terapi” kata dokter. Rio menginginkan kesembuhan mamanya. Dengan berat hati, ia mengikuti saran dokter. Mulai hari itu, mama Rio akan ditangani oleh
dokter. Dalam perjalanan pulang, Rio hanya bisa termenung dan memendam beban serta emosinya. Terlalu banyak beban yang kini bersarang di benak Rio. Tiba-tiba Rio merasa kepalanya pusing dan ia pingsan di pinggir jalan. Seseorang yang melihat Rio pingsan membawa Rio ke dalam mobilnya.

Siapakah orang yang menolong Rio itu?
Apakah yang dibisikkan Ify pada Rio?

-PART 8-

 

 

Rio membuka matanya. Ia berada dalam sebuah kamar yang sangat besar.

“Gue dimana?” gumam Rio.

“Lo ada di rumah gue” jawab seorang cowok. Rio seperti pernah melihat cowok itu. ia seorang anak pengusaha ternama.

“Lo? Kalo nggak salah lo itu Cakka Kawekas Nuraga, kan?” tanya Rio. Cowok itu tersenyum.

“Iya, gue Cakka” jawab Cakka. Lalu melanjutkan.

“Tadi lo pingsan di jalan, trus gue bawa kesini” kata Cakka.

“Makasih atas bantuan lo” kata Rio. Ia berdiri dan bermaksud untuk pulang. Tapi, Cakka menahannya.

“Bayangan hitam” kata Cakka.

“Kok lo tau soal itu?” tanya Rio.

“Lo tadi ngigau manggil nama Keke, Deva, papa dan terakhir bayangan hitam sialan” jawab Cakka.

“Gue juga ngeliat bayangan itu sebelum orang yang paling gue sayang tewas mengenaskan” lanjut Cakka.

“Siapa?” tanya Rio.

“Pelayan pribadi gue yang udah ngerawat gue dari gue kecil. 3 hari yang lalu, gue nemuin dia udah tewas di gudang bawah tanah” jawab Cakka. Pandangan matanya kosong.

“Bayangan hitam itu juga udah ngerenggut semua kebahagiaan dalam hidup gue. Pertama, dia ngebunuh cewek gue, lalu sahabat gue dari kecil, dan terakhir bokap gue.
Gara-gara itu, nyokap gue sekarang depresi dan harus masuk rumah sakit jiwa” jelas Rio. Cakka terkejut mendengar cerita Rio. Ia tidak menyangka ada orang yang lebih menderita daripada dia.

“Sorry, gue nggak..” kata-kata Cakka terputus.

“It’s OK. Oh ya, gue Rio” kata Rio memperkenalkan diri.

“Gue Cakka. Lo udah tau, kan? Ini, minum obat dulu” kata Cakka sambil memberikan obat dan segelas air putih pada Rio.

“Thanks” Rio meminum obat yang diberikan Cakka.

“Gue pulang dulu. Makasih atas bantuan lo” kata Rio

“Lo boleh datang ke sini kapan aja, Yo. Pintu rumah gue selalu terbuka untuk lo” kata Cakka.

“Thanks. Cak. Lo tinggal sama siapa di rumah segede ini ?” tanya Rio.

“Sama pembantu dan sopir gue” jawab Cakka.

“Besok gue ke sini lagi. Sekali lagi makasih, ya” kata Rio. Rio pulang ke rumahnya.

“Alvin dan Cakka. Udah dua orang yang punya tragedi sama ama gue. Tapi, sampai sekarang gue nggak bisa nemuin cewek yang ada di dalam mimpi gue” gumam Rio. Tiba-tiba, hp nya berbunyi.

“Halo?” kata Rio.

“Halo? Kak Rio, ini Ify. Ada yang mau gue omongin, kak” kata Ify.

“Oh, ya udah. Kita ketemu dimana?” tanya Rio.

“Gue aja yang ke rumah lo, kak. Alamatnya dimana?” tanya Ify.

“Perumahan Asri blok B nomer 5” jawab Rio.

“Ya udah, gue kesana sekarang” kata Ify. 10 menit kemudian, terdengarlah suara klakson mobil. Rio membuka pagar. Terlihat sebuah mobil jazz sport warna biru. Tak lama kemudian, turunlah seorang gadis. Dialah Ify.

“Masuk, Fy” ajak Rio. Ify masuk ke rumah Rio. Ia kagum melihat rumah Rio yang besar dan
rapi.

“Rumah lo rapi banget, kak” puji Ify.

“Thanks, Fy” jawab Rio. Ia pergi menuju dapur untuk mengambil minuman untuk Ify. Sementara Rio mengambil minum, Ify melihat-lihat foto keluarga Rio. Ia terkejut melihat foto seorang cowok yang berdiri di samping Rio.

“Minum dulu, Fy” kata Rio sambil membawa segelas jus jeruk untuk Ify. Ify segera duduk di sofa ruang tamu Rio dan meminum minumannya sedikit.

“Nyokap lo mana, kak?’ tanya Ify.

“Dirawat di rumah sakit jiwa” jawab Rio.

“Ha? Kok gitu?” tanya Ify.

“Mama depresi berat. Dan dia musti terapi dan dapet pengawasan dari dokter” jawab Rio.

“Oh ya, apa yang mau lo omongin ke gue?” lanjut Rio.

“Gue yakin sama yang gue omongin ke lo kemarin ini, kak” kata Ify.

“Bahwa bayangan hitam itu nggak cuma satu?” tanya Rio. Ify mengangguk.

“Gue ngeliat mereka lagi. Bayangan yang punya sosok cewek mirip banget sama Dea, sahabat kak Alvin”
jawab Ify.

“Yang satu lagi?” tanya Rio. Ify menggeleng.

“Yang gue tau yang satu lagi wujud aslinya cowok. Mirip sama dia” Ify menunjuk ke sebuah foto. Foto Rio dan seorang cowok yang lebih tua darinya.

“Kak Tian?” tanya Rio. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Ify.

“Kak Tian itu siapa lo, kak?” tanya Ify.

“Kakak gue. Dia udah lama hilang” jawab Rio.

“Hilang?” tanya Ify.

“Iya. Waktu kita sekeluarga pergi liburan 3 tahun lalu” jawab Rio. Rio tak menyangka Tian ada hubungan dengan semua ini.

“Lo udah kasih tau Alvin soal ini?” tanya Rio.

“Belum, kak. Gue takut luka hati kak Alvin kebuka lagi” jawab Ify. Rio mengerti.

“Oh ya, lo tau Cakka Kawekas Nuraga, kan? Anak pemilik Nuraga Company?” tanya Rio.

“Iya, kak. Emang kenapa?” tanya Ify balik.

“Dia juga sama ama gue dan kakak lo” jawab Rio.

“Maksud kakak?” tanya Ify lagi.

“Dia juga ngeliat bayangan hitam itu” jawab Rio.

“Kita harus kasih tau kak Alvin” kata Ify.

“Besok lo bawa Alvin kesini” kata Rio.

“Oke, kak. Ya udah, gue pulang dulu ya, kak” pamit Ify. Rio mengantar Ify sampai ke pintu depan. Lalu, ia masuk kembali kedalam rumah.

Keesokan harinya di rumah Rio…

“Cakka? Cakka Kawekas Nuraga itu?” tanya Alvin.

“Iya, Vin. Sekarang kita ke rumah Cakka” jawab Rio.

“Tunggu. Lo tau rumah dia, kak?” tanya Ify.

“Iya, kemarin dia nolong gue waktu gue pingsan di jalan” jawab Rio. Mereka bertiga berangkat menuju rumah Cakka.

“Hai, Rio. Silahkan masuk” kata Cakka. Rio, Alvin dan Ify masuk ke dalam rumah Cakka.

“Mereka siapa, Yo?” tanya Cakka.

“Ini Alvin dan adeknya, Ify” jawab Rio.

“Hai, gue Alvin” kata Alvin.

“Gue Ify” kata Ify.

“Hai, Vin, Fy” kata Cakka.

“Cak, mereka berdua juga ngeliat bayangan itu. Bahkan, Ify udah ngeliat wujud aslinya” kata Rio.

“Ha?” Cakka tidak percaya.

“Ify bisa ngeliat hal-hal yang nggak bisa kita liat, Cak” kata Alvin.

“Mirip Shilla” gumam Cakka.

“Siapa, Cak?” tanya Ify.

“Shilla. Sepupu gue. Dia juga punya indra keenam” jawab Cakka.

“Trus dia dimana sekarang?” tanya Rio.

“Di rumah sakit jiwa. Dia dianggap gila sama keluarganya” jawab Cakka.

“Lo punya fotonya?” tanya Rio. Ia teringat dengan cewek pasien rumah sakit jiwa yang ada dalam mimpinya. Cakka mengangguk dan mengambil sebuah foto dari kamarnya. Ia memperlihatkan pada Rio.

“Dia!! Dia yang ada dalam mimpi gue. Ini cewek itu, Vin” kata Rio.

“Lo bisa anterin kita ke rumah sakit tempat dia dirawat?” tanya Alvin. Cakka mengangguk. Kali ini mereka pergi dengan mobil Cakka. Sampailah mereka di sebuah rumah sakit jiwa yang sepertinya kurang terawat.

“ Untung mama nggak dirawat disini” batin Rio.

“Disini, Cak?” tanya Rio. Cakka mengangguk. Mereka menuju sebuah kamar. Ketika pintu kamar itu dibuka, terlihatlah seorang gadis yang sedang duduk di atas tempat tidur.
Pandangan matanya sayu dan kosong.

“Shilla” panggil Cakka. Gadis itu menoleh.

“Cakka?” tanya gadis yang dipanggil Shilla itu.

“Iya, ini gue. Gimana keadaan lo, Shil?” tanya Cakka.

“Gue tadi dikasih obat penenang lagi, Cak. Badan gue nggak kuat nahan zat obat itu” jawab Shilla. Rio, Alvin dan Ify terkejut melihat kondisi Shilla.

“Lo ngeliat bayangan itu lagi?” tanya Cakka.

“Iya. Dan waktu gue teriak minta tolong, mereka malah nyuntikin obat penenang ke gue” Shilla menangis. Cakka memeluk sepupu tercintanya itu.

“Oh iya, gue bawa temen nih” kata Cakka sambil menghapus airmata Shilla.

“Hai, Shil” sapa Rio, Alvin dan Ify.

“Hai” kata Shilla.

“Gue Rio, ini Alvin dan ini Ify” kata Rio memperkenalkan dirinya dan teman-temannya pada Shilla.

“Rio, gue turut berduka, ya. Atas kepergian cewek, sahabat dan bokap lo” kata Shilla.

“Alvin dan Ify, gue turut berduka atas kepergian kakak kalian” lanjut Shilla.

“Kok lo bisa tau?” tanya Rio.

“Shilla bisa liat kenangan duka setiap orang” jawab Cakka.

“Duka?” tanya Alvin.

“Iya. Cuma kejadian duka. Gara-gara ini gue di masukin kesini” jawab Shilla.

“Lo harus kabur dari sini, Shil” kata Ify. Shilla tersenyum.

“Makasih, Fy. Tapi, setiap gue mau kabur dari sini, dia muncul” kata Shilla.

“Dia?” tanya Alvin.

“Bayangan sialan itu. Dia selalu menghantui gue” jawab Shilla. Semuanya terdiam. Lalu, Rio mengalihkan pembicaraan.

“Shil, lo adalah cewek yang ada dalam mimpi gue” kata Rio.

“Tandanya lo harus nemuin orang yang ada dalam mimpi lo” jawab Shilla.

“Dan gue udah berhasil nemuin lo” tambah Rio.

“Sekarang kita semuanya udah berkumpul” kata Ify.

“Nggak, belum semuanya. Gue belum nemuin cowok yang ada dalam mimpi gue” kata Shilla.

siapa ya cowok yg di dalam mimpinya Shilla ??
apakah benar bayangan hitam itu sahabat alvin dan kakak Rio sendiri ?? wow..
dan, apa bayangan itu hanya 2 ? atau bahkan beribu-ribu ?? (lebay :p)
tunggu kelanjutannya yah.. di part 9 :)

-PART 9-

“emang yg di mimpi lo kaya gimana orang nya ??” tanya alvin kepada shilla

“iya bener, Siapa Shill?” tanya Rio.

“Gue nggak tau siapa dia. Yang jelas dia seorang drummer” jawab Shilla.

“Wah, susah nih” keluh Ify.

“Ya udah, nanti pasti kita bisa nemuin si drummer itu” kata Alvin.

“Shil, kita balik dulu, ya?” kata Cakka. Shilla mengangguk.

“Lo jaga diri, ya” pesan Rio.

“Iya” jawab Shilla. Mereka semua kembali ke rumah Cakka. Karena mobil Ify di parkir disana.

“Thanks, Cak” kata Alvin. Lalu, Alvin dan Rio masuk ke mobil Ify. Ify mengantar Rio pulang. Setelah itu, Ify mengantar Alvin ke kostan Gabriel.

“Kak Alvin, kakak tinggal di rumah Rio aja, kak” kata Ify dalam perjalanan.

“Lho? Kenapa?” tanya Alvin.

“Kak Rio Cuma sendirian di rumah” jawab Ify.

“Lha? Nyokap dia kemana?” tanya Alvin.

“Nyokap kak Rio depresi dan terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa” jawab Ify. Alvin terkejut.

“Yang bener, Fy?” tanya Alvin.

“Iya. Kemarin kak Rio cerita sama Ify” jawab Ify.

“Kemarin? Ngapain kamu ke rumah Rio?” tanya Alvin.

“Eh? Nggak kok. Cuma mampir aja” jawab Ify. Lalu melanjutkan.

“Gimana, kak? Mau nggak kakak nemenin kak Rio di rumahnya?” tanya Ify.

“Boleh, deh. Tapi apa si Rio nggak keberatan?” tanya Alvin.

“Ya nggak lah, kak. Pasti kak Rio seneng. Dia butuh sahabat di samping dia” jawab Ify.

“Oke deh. Eh, Fy kamu suka sama Rio ya?” tanya Alvin.

“Kakak apaan sih? Nggak lagi” jawab Ify. Alvin hanya senyum-senyum. Sampailah mereka di kostan Gabriel. Ify turun menemani Alvin.

“Kak Iyel!!!” panggil Ify.

“Ify? Tumben kesini?” tanya Gabriel.

“Emang nggak boleh?” tanya Ify.

“Ya, nggak gitu juga sih” jawab Gabriel.

“Oh iya, Iyel. Mulai besok gue nggak disini lagi. Gue tinggal di rumah temen gue. thanks ya, selama ini lo udah mau nampung gue disini” kata Alvin.

“Nggak apa-apa, kok Vin. Sesama saudara harus saling membantu” kata Gabriel. Lalu, Ify pamit pulang pada Gabriel dan Alvin.

“Ify, darimana kamu?” tanya papa Ify.

“Eh, papa? Ify baru habis jenguk teman Ify yang sakit” jawab Ify. Lalu, ia langsung menuju kamarnya. Ia mengambil hpnya dan menelepon Rio.

“Ya, Fy. Ada apa?” tanya Rio.

“Kak, lo kan sendirian di rumah. Gue udah minta kak Alvin nemenin lo di rumah” jawab Ify.

“Nemenin gue? Gue bukan anak kecil lagi kali, Fy” kata Rio.

“Ya, gue juga nggak mau kak Alvin tinggal di kostan kak Iyel. Papa kayaknya curiga gara-gara gue main ke tempat kak Iyel terus. Gue nggak mau kak Iyel sama kak Alvin kena marah sama papa” kata Ify.

“Hm..boleh deh. Kapan Alvin pindah ke rumah gue?” tanya Rio.

“Besok” jawab Ify.

“Oke, deh” kata Rio lalu menutup pembicaran dengan Ify.

Malamnya…

Rio tidak bisa tidur. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Firasatnya mengatakan kalau ia harus segera pergi ke tempat Shilla. Rio percaya pada firasatnya. Ia segera memacu motornya ke rumah sakit jiwa tempat Shilla dirawat. Ternyata, firasat Rio benar. Rumah sakit jiwa itu terbakar. Banyak orang disana yang mencoba memadamkan api. Rio berlari menerobos kobaran api dan menyelamatkan Shilla. Tak lama kemudian, mobil pemadam kebakaran pun datang dan berhasil memadamkan api.

“Uhuk..uhuk!!” Shilla terbatuk.

“Shil, bangun. Lo udah selamat” kata Rio. Shilla membuka matanya.

“Rio?” panggil Shilla.

“Lo nggak apa-apa? Gue bawa ke rumah sakit, ya?” tanya Rio.

“Nggak. Nggak usah. Gue udah nggak apa-apa. Cuma luka sedikit” jawab Shilla.

“Ya udah. Kalo gitu lo ke rumah gue aja” kata Rio. Shilla mengangguk. Rio memberikan jaketnya pada Shilla.

“Udah malem. Dingin” kata Rio. Shilla tersenyum. Sesampainya di rumah Rio, Rio mengambil kotak P3K dan mengobati luka Shilla.

“Thanks, Yo” kata Shilla.

“Sama-sama. Malam ini, lo nginap disini aja dulu. Tenang, lo nggak bakal gue apa-apain, kok” kata Rio. Rio mengantarkan Shilla ke kamar tamu.

“Lo tidur disini, kalo ada apa-apa lo teriak aja” kata Rio. Shilla tertawa.

“Bentar. Gue cariin baju buat lo” kata Rio. Ia berlari ke kamarnya, lalu kembali ke kamar tamu.

“Nih, pake baju gue dulu. Sorry kegedean” kata Rio sambil memberikan sehelai baju kaos pada Shilla

“Thanks lagi” kata Shilla. Rio keluar dari kamar tamu. Shilla segera mengganti bajunya. Tak lama kemudian Shilla pun tertidur. Rio yang sudah berada di kamarnya pun langsung tidur.

Paginya…

Terdengar suara orang sedang memasak di dapur. Rio segera berlari ke dapur. Dilihatnya Shilla sedang memasak sarapan pagi.

“Shilla? Lo kan masih sakit?” tanya Rio.

“Lo udah bangun? Sorry gue lancang make dapur lo” jawab Shilla.

“Biar gue aja yang masak” kata Rio.

“Nggak usah, Yo. Lagian lo belum mandi. Mandi dulu sana” kata Shilla. Rio menurut. Setelah Rio selesai mandi, ia dan Shilla sarapan bersama. Ketika mereka sedang sarapan, terdengar bunyi klakson mobil. Rio membuka pintu.

“Hei, Vin, Fy. Masuk, yuk. Ada Shilla juga di dalam” kata Rio. Alvin dan Ify saling berpandangan. Lalu, masuk ke rumah Rio.

“Hai, Alvin, Ify” sapa Shilla.

“Hai, lo kok bisa disini?” tanya Alvin.

“Rio yang bawa gue kesini. Kalian udah sarapan? Kalo belum bareng aja” ajak Shilla. Kebetulan Ify dan Alvin memang belum sarapan. Mereka pun ikut sarapan bersama Rio dan Shilla.

“Yo, kok Shilla lo bawa kesini?” tanya Alvin.

“Lha? Masa dia gue tinggal di puing-puing rumah sakit jiwa” jawab Rio.

“Puing-puing?” tanya Ify.

“Iya. Rumah sakit jiwa tempat Shilla dirawat semalam kebakaran” jawab Rio. Setelah mereka selesai sarapan, Alvin menonton TV, Rio pergi ke kamarnya, Ify dan Shilla membereskan meja makan. Alvin merasakan getaran di hp nya. Ada telepon dari Cakka.

“Ya, Cak?” tanya Alvin.

“Vin, lo dimana?” tanya Cakka.

“Gue di rumah Rio. Ada apa?” tanya Alvin.

“Lo lagi nonton TV nggak? Kalo iya liat channel 7, rumah sakit jiwa tempat Shilla kebakaran semalam” jawab Cakka. Alvin segera mengganti channel TV.

“Vin, lo masih disana, kan?” tanya Cakka.

“Iya, Cak. Semua pasiennya meninggal” jawab Alvin.

“Gue khawatir sama Shilla, Vin” kata Cakka. Suaranya menandakan bahwa ia cemas.

“Lo tenang aja, Cak. Sepupu lo yang cantik itu ada di rumah Rio” kata Alvin.

“Ha? Yang bener lo? Gue kesana sekarang, ya?” kata Cakka. Ia ingin melihat keadaan Shilla.

“Oke, gue tunggu” kata Alvin.

“Kenapa, Vin?” tanya Rio menghampiri Alvin.

“Cakka mau ke sini. Dia mau ngeliat keadaan Shilla” jawab Alvin. Alvin kembali menonton berita bersama Rio. Mereka berdua terkejut melihat sebuah berita yang ditayangkan.

“Ada apa, Vin?” tanya Shilla. Alvin menunjuk ke TV.

“Sebuah kecelakaan telah menimpa band Holmes. Bis yang membawa mereka untuk pergi tur, menabrak pohon. Akibatnya, 4 dari 5 personil dinyatakan tewas. Sedangkan sang drummer, Ray berhasil selamat dari kecelakaan maut itu. Ray mengalami luka pada bagian kepala. Sekarang Ray masih dirawat di rumah sakit. Polisi masih mencari sopir bis yang dianggap lalai mengemudikan bis tersebut” kata penyiar berita itu. Sebuah foto diperlihatkan di layar TV.

“Itu cowok yang ada dalam mimpi gue” kata Shilla. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson mobil. Itu mobil Cakka.

“Cak, kita udah tau siapa cowok yang ada di mimpi Shilla” kata Alvin.

“Siapa?” tanya Cakka.

“Raynald, drummer band Holmes. Sekarang dia ada di rumah sakit” jawab Ify.

“Kita ke rumah sakit sekarang?” tanya Shilla.

“Iya” kata Rio. Mereka semua pergi menuju rumah sakit dengan mobil Cakka. Ify sempat melihat nama rumah sakit tempat Ray dirawat saat melihat tayangan berita tadi.

Sesampainya di rumah sakit…

“Permisi, suster. Korban kecelakaan bus kemarin dirawat di kamar nomer berapa?” tanya Alvin.

“Namanya siapa, ya?” tanya suster itu.

“Ray. Muhammad Raynald Prasetya” jawab Shilla.

“Sebentar. Muhammad Raynald Prasetya di kamar VIP 57” kata suster itu. Rio cs segera menuju ke kamar VIP 57 yang terletak di lantai 3. Ify mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Alvin membuka pintu kamar itu. Kamar itu kosong. Alvin melihat ke balkon kamar. Seorang cowok seumurannya sedang berusaha memanjat ke atas pagar balkon. Cowok itu berniat bunuh diri..

apakah bener cowok yg ingin bunuh diri itu Ray ??
dan apakah niat bunuh dirinya berhasil ??
tunggu kelanjutannya di part 10 :)

-part 10-

 

 

Cowok itu berniat bunuh diri. Alvin segera berlari kearah balkon dan
menahan tangan cowok itu.

“Hei, lo gila ya!!” kata Alvin.

“Ngapain lo nahan gue?! Gue nggak pantas hidup lagi!!” jawab cowok itu yang ternyata adalah Ray.

“Jangan lo sia-siain hidup lo!” kata Alvin. Rio dan yang lainnya masuk untuk mencegah Ray
bunuh diri.

“Jangan lo akhiri hidup lo dengan bunuh diri” kata Ify.

“Temen-temen gue udah manggil gue buat nyusul mereka” kata Ray.

“Nggak, Ray. Nggak semua masalah bisa diselesain dengan cara bunuh diri” jawab Shilla.

“Lo bodoh!!” kata Cakka. Semua orang yang ada di kamar Ray terdiam.

“Lo milih untuk bunuh diri daripada lo ngusut kematian temen-temen lo. Kita semua tau kalau lo itu nggak rela atas kematian mereka. Kita semua sama ama lo” lanjut Cakka.

“Sama?” tanya Ray.

“Iya. Pelayan bribadi gue yang udah ngurusin gue dari kecil tewas di gudang bawah tanah di rumah gue. Lo tau kenapa?” tanya Cakka. Lalu melanjutkan.

“Bayangan hitam itu yang udah ngebunuh dia” kata Cakka. Ray terkejut.

“Bayangan hitam? Sebelum kecelakaan gue juga ngeliat bayangan itu” batin Ray.

“Dan Rio. Pacar, sahabat dan bokapnya meninggal gara-gara bayangan itu juga” lanjut Cakka sambil menunjuk kearah Rio.

“Jadi kalian juga ngeliat bayangan itu?” tanya Ray. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri.

“Iya. Dan kita butuh lo, Ray” kata Rio. Ray menyuruh Rio cs duduk di sofa kamar itu dan Rio cs
memperkenalkan diri masing-masing.

“Infus lo mana, Ray?” tanya Ify.

“Gue buka” jawab Ray. Ia menatap Ify.

“Lo? Gue pernah liat lo dalam mimpi gue” kata Ray.

“Lo juga dapet sinyal itu, Ray? Mimpi itu pertanda kalo kita harus nemuin orang yang ada dalam mimpi kita” kata Alvin.

“Maksud lo?” tanya Ray.

“Gue mimpi Rio datang dalam mimpi gue” jawab Alvin.

“Shilla ada dalam mimpi gue” sambung Rio.

“Gue mimpi, lo ada dalam mimpi gue” lanjut Shilla.

“Lo mimpi gue ada di mimpi lo dan gue mimpi Cakka ada dalam mimpi gue” kata Ify.

“Kamu nggak pernah cerita sama kakak, Fy?” tanya Alvin. Ify tersenyum.

“Ify tau kalau suatu saat Ify pasti ketemu sama orang yang ada dalam mimpi Ify” jawab Ify.

“Dan gue mimpi Alvin datang dalam mimpi gue” kata Cakka. Semua melihat pada Cakka.

“Gue mimpi sehari sebelum Rio datang ke rumah gue membawa Alvin dan Ify” lanjut Cakka.

“Berarti kita bener-bener udah ditakdirkan bertemu?” tanya Ray.

“Iya. Lo mau bantuin kita?” tanya Rio. Ray mengangguk.

“Besok gue udah boleh pulang dari rumah sakit ini” kata Ray.

“Oke, besok kita ke rumah lo. Alamatnya dimana?” tanya Rio.

“Gue disini ngekost bareng temen se-band gue” jawab Ray.

“Ha! Gimana kalo lo tinggal di rumah kak Rio aja?” usul Ify.

“Wah, boleh juga tu, Ray. Sekalian nemenin gue” jawab Alvin.

“Wah, wah. Jadi sekarang rumah gue jadi markas, nih?” tanya Rio.

“Yo, rumah lo kan gede. Kan banyak kamar di rumah lo” kata Alvin.

“Iya. tapi gedean rumah Cakka” jawab Rio.

“Ya jelaslah. Cakka kan anak pengusaha ternama” kata Shilla.

“Boleh deh” jawab Ray. Setelah berbincang-bincang selama 2 jam, Rio cs akhirnya pulang.

“Oh ya, Yo. Makasih ya udah bolehin gue nginep tadi malam” kata Shilla.

“Iya, sama-sama. Sekarang lo mau tinggal dimana?” tanya Rio.

“Hei, gue kan nggak sendiri disini. Gue bisa tinggal di rumah sepupu gue, Cakka” jawab Shilla. Rio hanya garuk-garuk kepala.

“Rio ngarep kalo lo tinggal disini lagi, Shil” sindir Alvin. Rio menyikut Alvin.

“Habis, masakan lo enak” kata Rio. Shilla tertawa.

“Besok gue masakin lagi, deh. Sekalian buat nyokap lo. Gue pengin jenguk dia” kata Shilla.

“Boleh, tuh. Besok habis jemput Ray, lo semua mau nemenin gue kan?” tanya Rio.

“Pasti”

Keesokan harinya…

“Thanks, ya udah mau ngejemput gue” kata Ray.

“It’s OK. Oh ya, habis ini kita jenguk nyokap Rio” kata Cakka.

“Dimana?” tanya Ray.

“Rumah sakit jiwa” jawab Rio.

“Ha?” Ray tidak percaya.

“Kenapa? Lo nggak percaya?” tanya Ify. Ray mengangguk.

“Nyokap kak Rio masuk rumah sakit jiwa karena depresi berat setelah bokap kak Rio meninggal” jawab Ify.

“Yo, sorry ya” kata Ray.

“Nggak apa-apa, kok. Cabut, yuk” kata Rio. Mereka berenam berangkat menuju rumah sakit jiwa dengan mobil Cakka. Sampailah mereka di rumah sakit jiwa tempat mama Rio dirawat.

“Permisi, suster. Dokter Rizky ada?” tanya Rio.

“Ada. Adek ini siapa, ya?” tanya suster itu.

“Mario” jawab Rio.

“Oh, dek Rio ya? Langsung masuk aja, dek. Dokter Rizky ada di dalam” kata suster itu. Rio masuk ke dalam ruangan dokter. Sedangkan teman-temannya menunggu di luar.

“Permisi, dok” kata Rio.

“Eh, Rio. Silahkan duduk” kata dokter Rizky.

“Gimana keadaan mama, dok?” tanya Rio.

“Setelah menjalani terapi selama beberapa hari ini, ibu anda mengalami kemajuan yang pesat. Beliau sudah bisa diajak bicara seperti dulu. Tapi, jangan sekali-kali menyebut tentang ayah anda di depan beliau. Beliau masih belum terlalu sehat” jawab dokter Rizky.

“Jadi, mama saya belum boleh pulang, dok?” tanya Rio.

“Belum. Tapi, kamu bisa jenguk ibu kamu sekarang” jawab dokter Rizky.

“Terima kasih, dok” kata Rio. Ia keluar dari ruangan dokter Rizky.

“Gimana, Yo?” tanya Alvin.

“Nyokap gue udah bisa diajak ngomong kayak dulu lagi. Tapi, gue harap lo semua nggak ngungkit masalah bokap gue” jawab Rio.

“Sip” jawab Cakka. Mereka diantar oleh suster ke sebuah kamar yang terpisah dengan pasien-pasien lainnya.

“Ma” sapa Rio. Mama Rio menoleh.

“Rio! Mama kangen banget sama kamu, nak” jawab mama Rio. Rio memeluk mamanya.

“Gimana keadaan mama?” tanya Rio.

“Mama nggak betah disini, sayang” jawab mama Rio. Rio tertawa.

“Mama kan belum sembuh benar. Sabar aja dulu, ma” kata Rio.

“Mereka siapa?” tanya mama Rio menunjuk teman-teman Rio.

“Oh, mereka berlima itu temen Rio, ma. Yang pake baju merah itu namanya Alvin, yang pake jaket hijau itu Cakka, yang gondrong itu Ray, yang rambutnya diiket namanya Shilla, trus yang pake bando itu Ify” kata Rio memperkenalkan teman-temannya.

“Siang, tante” sapa mereka serempak.

“Siang” jawab mama Rio.

“Oh ya, tante. Ini Shilla bawain makanan buat tante. Kata Rio, tante paling suka bubur ayam. Makanya Shilla bikinin bubur ayam khusus buat tante” kata Shilla sambil memberikan kotak makanan yang berisi bubur ayam.

“Makasih, Shilla” kata mama Rio. Selama 4 jam, mereka menemani mama Rio. Rio
menyempatkan diri untuk menyuapi mamanya. Setelah itu, mereka pulang.

“Ma, Rio pulang dulu ya” kata Rio.

“Tante, kami pulang dulu” kata teman-teman Rio.

“Iya, hati-hati. Makasih ya..” kata mama Rio. Lalu, mereka berenam pulang. Sampailah mereka di rumah Rio.

“Yo, nyokap lo tadi nggak kayak orang depresi” kata Ray.

“Iya. Gue juga kaget. Perkembangan kesehatan mama pesat” kata Rio. Tiba-tiba Ify berteriak.

“Kenapa, Fy?” tanya Alvin.

“Ify liat dia lagi, kak” kata Ify sambil menangis. Alvin langsung memeluk adik tercintanya itu.

“Gue udah nggak bisa tinggal diam lagi” kata Alvin.

“Guys, gimana kalo malam ini kita semua nginap disini?” tanya Cakka.

“Kita musti nyusun rencana” lanjutnya.

“Oke” jawab Shilla.

“Lo nggak keberatan kan, Yo?” tanya Cakka.

“Nggak, kok” jawab Rio. Rio mengantar Shilla dan Ify ke kamar tamu yang berada di lantai bawah, Cakka dan Ray di kamar tamu yang terletak persis di depan kamar Ify dan Shilla, sedangkan Alvin di kamar Rio. Ketika berjalan menuju kamar Rio, Alvin melewati sebuah kamar.

“Yo, ini kamar siapa?” tanya Alvin.

“Kak Tian” jawab Rio.

“Kak Tian?” tanya Alvin.

“Iya. Kakak gue” jawab Rio.

“Trus, dimana dia sekarang?” tanya Alvin.

“Dia hilang. 3 tahun lalu waktu kita sekeluarga pergi liburan. Sampai sekarang nggak ada kabarnya” jawab Rio. Alvin sangat prihatin pada temannya yang satu ini.

“Sorry, yo” kata Alvin.

“Nggak apa-apa. Yuk, masuk” ajak Rio. Alvin masuk ke kamar Rio. Ia kagum melihat kamar Rio. Kamar itu luas dan besar. Dindingnya berwarna biru muda. Alvin memperhatikan sekeliling kamar Rio. Matanya tertuju pada dua buah pigura foto. Yang satu terpampang foto Rio dan seorang cowok yang lebih tua darinya.

“Pasti itu Tian” pikir Alvin. Satu lagi adalah foto Rio bersama seorang gadi yang seumuran dengannya. Gadis itu sangat cantik.

“Cantiknya. Dia pasti Keke” batin Alvin. Rio mengeluarkan extra bednya.

“Kamar lo keren, yo” puji Alvin.

“Thanks, Vin. Oh ya, taruh aja barang-barang lo disana. Kita ke bawah sekarang” kata Rio. Alvin meletakkan barang-barangnya lalu mengikuti Rio ke lantai bawah.

Di ruang keluarga…

“Oke, gue bener-bener udah nggak tahan lagi sama bayangan yang selalu menghantui kita” kata Cakka.

“Gue juga udah capek berurusan sama bayangan itu” tambah Shilla.

“Sorry, guys. Gue mau jujur sama kalian semua” kata Ify tiba-tiba.

“Kenapa, Fy?” tanya Ray.

“Gue minta maaf karena udah nyembunyiin sesuatu yang besar dari kalian semua” kata Ify sambil menunduk.

“Apa itu, Fy?” tanya Alvin.

“Sebenernya…” kata Ify.
“Sebenernya apa, Fy?” tanya Cakka.

“Sebenernya bayangan hitam itu nggak cuma satu” jawab Ify. Semuanya terkejut, kecuali Rio. Karena dia sudah tahu sebelumnya.

“Kenapa lo baru bilang sekarang, Fy?” tanya Cakka.

“Sorry. Kemarin gue belum yakin sama apa yang gue liat” jawab Ify.

“Berarti bayangan hitam yang menghantui kita wujud aslinya berbeda-beda” komentar Ray.

“Gue baru liat dua sosok aslinya” kata Ify.

“Tiga. Gue juga udah ngeliat bayangan yang selalu menghantui gue” tambah Shilla.

“Kayak apa?” tanya Alvin.

“Sebelumnya, Ify minta kak Alvin jangan sedih, ya” kata Ify. Alvin mengangguk.

“Bayangan yang udah ngebunuh kakak kita mirip banget sama Dea, kak” kata Ify. Alvin terdiam. Ia tidak menyangka nama itu akan muncul kembali dalam hidupnya.

“Satu lagi?” tanya Cakka.

“Mirip sama dia” Ify menunjuk foto Tian.

“Itu siapa, Yo?” tanya Shilla.

“Kak Tian. Kakak gue yang hilang 3 tahun lalu” jawab Rio.

“Yang lo liat, Shil?” tanya Ray.

“Kiki” jawab Shilla. Cakka terbelalak.

“Kiki? Apa hubungan dia sama semua ini?” tanya Cakka.

Siapakah Kiki itu?
Bagaimanakah kelanjutannya?
gimana cara mereka membuka misteri ini :) hanya 3 part lagi loh..
jangan lupa saksikan part-part akhir ya.. yg pasti nya tambah seru.. (kaya sinetron aja :p)

-PART 11-

 

 

“Kiki itu siapa, Cak?” tanya Ray. Cakka melihat Shilla. Shilla mengangguk.

“Nggak apa kok, Cak. Gue nggak apa-apa” kata Shilla.

“Kiki itu adalah orang yang selama ini ada di samping Shilla. Mereka selalu bersama dari lahir. Dengan kata lain, Kiki adalah kembaran Shilla, tapi mereka kembar yg dari beda sel telur” jawab Cakka yang membuat semua Rio, Alvin, Ify dan Ray terkejut.

“Kembaran? Lo punya kembaran, Shil?” tanya Alvin memastikan. Shilla mengangguk.

“Kiki meninggal karena bunuh diri” jawab Shilla.

“Kok bisa?” tanya Ify tidak percaya.

“Karena papa” jawab Shilla. Lalu melanjutkan.

“Gue sama Kiki selalu jadi perhatian banyak orang karena kekompakan kita berdua. Dulu Kiki adalah anak yang baik dan peduli pada orang-orang di sekitarnya. Sampai pada suatu hari, Kiki kecelakaan karena menyelamatkan seorang anak kecil di jalan raya. Sebuah mobil menabraknya hingga Kiki harus menghadapi kenyataan kalau kedua kakinya lumpuh. Sejak saat itu, Kiki kehilangan senyumnya. Papa
yang nggak bisa terima kenyataan malah membanding-bandingin gue dengan Kiki.
Papa bilang kalau Kiki sekarang nggak berguna lagi dan hanya gue yang bisa ngebahagiain beliau. Kiki nggak bisa terima dengan kata-kata papa yang dilontarkan padanya. Akhirnya, suatu hari gue nemuin Kiki udah meninggal di kamarnya. Kiki bunuh diri dengan cara menusuk perutnya sendiri” kata Shilla.
Shilla tidak meneteskan airmata sedikit pun. Diam-diam Rio kagum pada Shilla karena ketegarannya.

“Sorry ya, Shil. Kita nggak bermaksud buat ngungkit masa lalu lo itu” kata Ify.

“Nggak apa-apa. Toh, sekarang dia yang muncul lagi dalam kehidupan gue” jawab Shilla.

“Trus, kenapa lo bisa masuk rumah sakit jiwa?” tanya Alvin.

“Dua hari setelah Kiki meninggal, tiba-tiba gue bisa ngeliat kejadian duka yang pernah dialami orang lain. Gue nggak kuat dengan kemampuan gue itu. Gue sering teriak histeris kalau gue ngeliat kejadian duka orang lain. Papa dan mama malah masukin gue ke rumah sakit jiwa karena mereka nganggap gue depresi atas kematian Kiki. Disanalah gue mulai bisa ngeliat bayangan itu, dan gue ternyata bisa liat wujud aslinya yang ternyata adalah kembaran gue sendiri” jawab Shilla. Semuanya terdiam.

“Sekarang gue bener-bener takut. Musuh kita nggak cuma satu” kata Ray.

“Nggak, Ray. Kita nggak boleh takut. Lo harus lawan rasa takut lo itu” kata Ify. Rio dari tadi hanya diam membuat Alvin bingung.

“Yo, kenapa?” tanya Alvin.

“Gue penasaran, kenapa orang-orang di masa lalu kita malah menghantui kita sekarang?” jawab Rio.

“Gue juga, Yo. Padahal gue udah bisa ngelupain Dea. Tapi tiba-tiba, dia mncul lagi dalam hidup gue” kata Alvin.

“Vin, kalo boleh tau Dea itu siapa, sih?” tanya Cakka.

“Dia itu sahabat gue dari kecil. Dia meninggal tepat pada hari ulang tahunnya yang ke 17. Polisi menduga, kalau Dea itu dibunuh” jawab Alvin.

“Yang jadi pertanyaan besar dalam benak gue sekarang adalah apa maksud mereka membunuh orang-orang yang kita sayangi?” kata Rio. Lalu, ia berpikir sejenak.

“Fy, Shil, lo berdua bisa ngeliat wujud asli bayangan itu, kan?” tanya Rio. Ify dan Shilla mengangguk.

“Lo bakal mainin peran yang besar dalam usaha kita kali ini” kata Rio. Teman-temannya saling berpandangan bingung.

“Maksud lo, Yo?” tanya Ray.

“Ify dan Shilla harus bisa ngomong sama mereka” jawab Rio. Ify bergidik. Alvin mengetahui perasaan adiknya.

“Lo harus usaha buat ngilangin rasa takut lo itu, Fy” kata Alvin menenangkan adiknya itu. Ify mengangguk.

“Gue akan coba” kata Ify.

“Gue juga” tambah Shilla. Tiba-tiba pintu rumah Rio diketuk, padahal jam sudah menunjukka pukul sembilan malam.

“Siapa sih malam-malam gini” keluh Rio. Ia berjalan ke ruangan depan untuk membuka pintu. Pada saat Rio sudah membuka pintu, tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah kertas yag ditemukannya. Rio mengambil kertas itu dan melihatnya. Kengerian menyelimuti dirinya saat membaca tulisan yang ada di kertas itu. Lama sekali Rio berada di depan pintu, membuat Alvin dan yang lainnya khawatir pada Rio.
Alvin memutuskan untuk melihat Rio ke depan. Ia menghampiri Rio yang sedang membaca sebuah surat.

“Lo lama amat, Yo? Siapa tadi kesini?” tanya Alvin.

“Kak Tian” jawab Rio datar.

“Maksud lo?” tanya Alvin.

“Ini” Rio memperlihatkan kertas yang dibacanya tadi pada Alvin. Kertas itu berisi sebuah gambar villa dan alamatnya. Alvin menaikkan satu alisnya.

“Gue nggak ngerti, Yo” kata Alvin. Rio menutup pintu dan mengajak Alvin kembali ke tempat teman-temannya.

“Siapa, Yo?” tanya Cakka. Rio hanya diam.

“Siapa, Vin?” tanya Shilla. Alvin mengangkat bahu.

“Gue juga nggak tau. Kata Rio kak Tian” jawab Alvin.

“Kok lo bisa bilang kayak gitu, Yo? Emang Tian bener-bener datang kesini, ya?” tanya Ray.

“Nggak. Tapi ini buktiin kalo kak Tian yang datang” jawab Rio. Ia memperlihatkan kertas yang ditemukannya tadi. Teman-temannya melihat isi kertas itu.

“Gambar villa?” tanya Ify. Rio mengangguk.

“Disana tempat kita sekeluarga ngabisin waktu liburan sebelum kak Tian hilang” jawab Rio.

“Gimana lo bisa yakin kalo itu bener-bener Tian?” tanya Alvin. Rio menunjuk tulisan yang berada di belakang kertas itu. Ada tulisan ‘Must be there’.

“Must be there?” tanya Shilla.

“Kak Tian selalu ngomong itu ke gue. Soalnya gue itu lamban dan kak Tian capek nungguin gue terus kalo mau ke suatu tempat. Jadi, kak Tian selalu pergi duluan dan ngasih alamat tempat itu dan bilang ‘must be there’ yang artinya gue harus kesana” jawab Rio.

“Kita harus kesana” kata Ify.

“Sekarang? Udah malam kayak gini?” tanya Ray.

“Nggak. Kita kesana besok pagi” jawab Rio. Setelah itu, mereka semua kembali ke kamar masing-masing. Malam itu tidak seorang pun yang bisa tidur. Pukul 1 dini hari, dalam keheningan malam terdengar suara Shilla sedang berbicara dengan seseorang, tapi bukan Ify. Cakka yang mendengar itu, langsung membangunkan Ray. Ia memberi isyarat pada Ray untuk memberitahu Rio dan Alvin. Ray mengirimkan
pesan ke hp Rio.

From : Ray

Yo, cepet ke bawah

Rio yang membaca pesan dari Ray itu segera mengajak Alvin untuk menuju ke bawah. Sesampainya di bawah, Rio dan Alvin menemukan Ray dan Cakka sedang menguping di depan kamar Ify dan Shilla.

“Ada apa?” tanya Rio.

“Sst…” Ray menyuruh Rio untuk diam lalu memberi isyarat pada Rio dan Alvin untuk mendengarkan pembicaraan yang sedang berlangsung di dalam kamar Shilla dan Ify.

“Maksud kamu?” terdengar suara Shilla.

“Kalau kamu ingin semua teman-teman kamu selamat, malam ini juga kamu harus pergi ke villa itu” kata suara seorang cowok. Rio mengenal suara itu. tanpa basa-basi lagi, Rio membuka pintu kamar. Seketika itu juga, bayangan hitam yang sedang bicara dengan Shilla itu menghilang.

“Rio?” tanya Shilla.

“Tadi pasti kak Tian. Gue yakin itu kak Tian” kata Rio. Shilla mengangguk.

“Kita harus pergi ke villa itu” kata Ify. Akhirnya, malam itu juga mereka berenam berangkat menuju villa yang ditunjukkan oleh gambar. Mereka berangkat dengan mobil Cakka.

“Yo, villanya jauh ya?” tanya Alvin. Rio mengangguk. Dalam perjalanan itu, Ray tertidur. Dan tiba-tiba dia terbangun.

“Kenapa, Ray?” tanya Alvin yang duduk di sebelah Ray.

“Oliv…” jawab Ray.

“Siapa?” tanya Ify.

“Olivia, mantan personil band gue” jawab Ray. Lalu melanjutkan.

“Gue punya firasat kalo dia salah satu dari bayangan itu” kata Ray.

“Ha? Musuh kita nambah lagi” jawab Alvin.

“Dia cewe yang mutusin untuk keluar dari band lo dan meninggal dalam kecelakaan mobil, kan?” tanya Shilla. Ray mengangguk.

“Kok lo..?” tanya Ray.

“Shilla bisa liat kejadian duka yang dialami seseorang” jawab Rio. Malam itu menjadi malam yang sangat mencekam bagi mereka berenam. Perjalanan itu membutuhkan waktu 2 jam, hingga akhirnya mereka sampai di sebuah villa yang sama persis dengan gambar yang diterima Rio tepat jam 3 pagi.

“Gila! Serem banget ni villa” komentar Cakka. Villa besar itu terletak diantar dua pohon beringin besar yang mengapitnya. Seakan-akan pohon itu yang menguasai suasana yang mencekam itu.

“Yo, bener ini tempatnya?” tanya Alvin.

“Iya. Gue yakin. Gue masih inget villa ini” jawab Rio. Rio membuka pagar villa dan masuk ke dalamnya. Alvin, Cakka, Ray, Shilla dan Ify mengikutinya di belakang. Rio membuka pintu masuk ke villa itu.

“Vin, lo bawa senter kan?” tanya Rio.

“Iya” jawab Alvin sambil menyalakan senternya. Mereka berenam masuk ke dalam villa dengan mengandalkan sebuah senter.

“Trek…trek…” sebuah suara mengejutkan mereka berenam. Alvin mengarahkan senter ke arah sumber suara.

“Cit..cit…” ternyata hanya seekor tikus. Lalu, mereka meneruskan langkah mereka.

“Krieet….tok” terdengar suara pintu ditutup. Kali ini mereka berenam benar-benar terkejut.

“Feeling gue bilang kalo itu mereka” kata Shilla.

“Suaranya dari atas” kata Rio. Mereka berjalan menuju lantai atas. Langkah mereka tertuju pada sebuah kamar yang terletak paling ujung.

“Yo, jangan dibuka” kata Ray.

“Kenapa? Takut lo?” tanya Cakka.

“Nggak. Serem aja” jawab Ray.

“Tapi, gue ngerasa kalau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan kita selama ini ada di dalam sana” kata Rio. Terdengar suara dari dalam kamar itu. Ify memegang tangan Alvin.

“Tenang, Fy” kata Alvin. Tiba-tiba, senter Alvin mati.

“Sial!” kata Alvin. Ia memukul-mukul senternya. Akhirnya, senter itu hidup kembali. Rio memutuskan untuk membuka pintu itu. Jantung mereka berdegup kencang.

Apakah yang ada di balik pintu itu?
baerhasilkah Rio dkk memecahkan misteri yg rumit itu ?
dan dengan cara apa yg mereka lakukan untuk memecahkan misteri yg mencekam itu ?
saksikan di bioskop terdekat.. *lohh??* nggak bohong, tunggu part 12 ya :)
yg pastinya part 12 tambah bikin bulu kuduk kita merinding.. hiiiii O.o

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.